•  

Jalan Allah Com
Rabu, 12 Juni 2013 - 07:22:35 WIB
Gereja-gereja di Indonesia butuh proses untuk mencapai kesatuan
Diposting oleh : admin
Kategori: Kristen & Katolik - Dibaca: 431 kali

Kesatuan umat Kristen adalah salah satu tujuan utama Konsili Vatikan II dan salah satu dokumen yang dihasilkan dari Konsili itu yang diselenggarakan tahun 1962 hingga tahun 1965 di Vatikan.

Dekrit Konsili Vatikan II tentang Ekumenisme berjudul Unitatis redintegratio (pemulihan kesatuan), menjelaskan “gerakan ekumene” adalah kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha, yang menanggapi bermacam-macam kebutuhan Gereja dan berbagai situasi diadakan dan ditunjukkan untuk mendukung kesatuan umat Kristen.

Namun, di Indonesia, gerakan itu membutuhkan proses karena situasi di Indonesia sangat berbeda, dan Gereja terlalu banyak sekte yang berkerja dan berjuang sendiri-sendiri.

PGI sendiri kini memiliki 88 sinode, dan masih banyak Gereja lain yang independen, yang tidak mau bergabung dalam sebuah struktur organisatoris.

“Ekumene di Indonesia berbeda dengan Eropa karena Gereja-gereja di Indonesia memiliki banyak sekte kecil dan masih berjuang sendiri-sendiri serta sulit diajak untuk kerjasama,” kata Pastor Antonius Benny Susetyo, sekretaris eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi HAK KWI).

Beberapa langkah menuju keesaan Gereja telah berjalan dengan baik, misalnya setiap tahun antara KWI dan PGI mengadakan beberapa kerjasama ekumenis. Kedua lembaga ini mengeluarkan Pesan Natal bersama, mengadakan acara Natal nasional, seminar, doa bersama. Pada peringatan 50 tahun Konsili Vatikan II mereka memutuskan untuk meningkatkan kerjasama ekumenis.

Selain itu belum lama ini diadakan celebration of unity. Acara dua hari itu, hari pertama mengumpulkan 2.500 pimpinan denominasi Gereja dari tujuh Aras Gereja Nasional yakni KWI, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI),  Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Persekutuan Gereja Lembaga Injili Indonesia (PGLII),  Persekutuan Baptis Indonesia, Gereja Bala Keselamatan, Gereja Ortodoks, dan Gereja Advent.

Agar gerakan keesaan Gereja ini tidak hanya menjadi gerakan di tingkat pimpinan, tapi juga perlu menyentuh ke tingkat umat basis (akar rumput). Maka pada hari kedua lebih dari 10.000 umat dari Gereja-gereja hadir dalam acara doa bersama yang diselenggarakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Langkah-langkah kerjasama ini, kendati penting, kata Romo Benny, masih bersifat formalis.

Gereja-gereja kurang bersatu terutama menghadapi intoleransi agama saat ini terus menghantui komunitas-komunitas dan bahkan kekerasan.

“Gerakan ekumene di Indonesia berkembang, tapi belum menyentuh hal-hal yang lebih substantif seperti kerjasama ekumenis dalam menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan, HAM, konstitusi dan hukum, kekerasan, dan hal-hal yang terkait dengan kehidupan Gereja dan masyarakat,” kata Romo Benny.

Isu-isu HAM dan penegakan hukum kini telah menjadi kritis, menyusul tekanan dari kelompok intoleran dan didukung pemerintah lokal terkait pembangunan gereja baru.

Menurut survei harian Kompas,  1 dari 99 persen penduduk Indonesia adalah intoleransi. Dari 1 persen  atau sekitar 2 juta, 66 persen adalah anti-Kristen (Protestan dan Katolik).

Jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Philadelphia di Bekasi dan GKI Yasmin di Bogor masih disegel  serta gereja-gereja lain termasuk Katolik, yang telah memiliki persyaratan Peraturan Bersama Dua Menteri, namun mereka masih menghadapi kesulitan untuk mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) melaporkan bahwa Januari-Mei 2013 terdapat 30 kasus yang dihadapi Gereja seperti penyegelan, pembongkaran, pelarangan ibadah dan gangguan saat beribadah. 

Pendeta Gomar Gultom, sekretaris umum PGI, menyarankan pendekatan yang sama.

Gereja-gereja seharusnya tidak boleh lagi terjebak pada persaingan-persaingan dan mempertentangkan perbedaan.

“Gereja-gereja tidak lagi berpikir untuk mempertentangkan perbedaan, tetapi mencari titik temu untuk bekerjasama. Ini waktu yang terbaik untuk memulai suatu gerakan bagi Gereja-gereja di Indonesia,” ungkapnya.

Menurut Pendeta Gomar, “Persatuan dan kebersamaan yang terbina di antara para pemimpin lembaga aras Gereja nasional perlu sampai ke akar rumput sehingga umat tidak merasa diri minoritas.”

Ia mengatakan kalau salah satu Gereja menghadapi diskriminasi dan kekerasan, Gereja-gereja harus menyadari bahwa semuanya adalah bagian dari Tubuh Kristus, ikut solider.

Untuk lebih mempererat kesatuan Gereja-gereja ke depan, katanya, tujuh aras Gereja nasional telah membentuk Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI). Forum ini, katanya, sebagai wadah untuk berdiskusi dan membantu gereja-gereja yang menghadapi masalah IMB ataupun bentuk intoleransi lainnya.  

Pendeta Guntur Subagyo, ketua umum Persekutuan Baptis Indonesia mengatakan, “Kita butuh gerakan bersama untuk mewujudkan kesatuan Gereja melalui kerjasama di antara Gereja-gereja yang berbeda paham teologi, doktrin dan praktek-praktek bergereja.”
 
“Kita coba buat acara bersama untuk pelayanan sosial kepada masyarakat, misalnya membuat pelayanan kesehatan, bisa melalui kerja bakti sosial lingkungan bersama-sama,” tambahnya.
 
Romo Benny mengatakan lebih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan ke depan untuk memenuhi janji kesatuan umat Kristen.

“Gerakan ekumene di Indonesia membutuhkan proses dan gerakan ekumene semakin bermakna kalau kita ikut memberikan kontribusi untuk Gereja dan bangsa,” katanya.

Konradus Epa, Jakarta

Sumber: Indonesia’s Christians are a long way from unity




1 Komentar :

aku sayang kamu
23 April 2014 - 08:09:31 WIB

wahh sangat kerenn
http://cinta009.blogspot.com/

<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)